Batik Kuno Yang Hilang Batik Tutur Blitar Identitas Perjuangan Melawan Kolonial

Batik Kuno Yang Hilang Batik Tutur Blitar Identitas Perjuangan Melawan Kolonial

Batik saat ini sudah menjadi mode fashion yang sudah terkenal di seluruh dunia. Dan merupakan ciri khas dari indonesia yang sudah di akui dunia. Namun jika kita menengok sejarah sebentar tentang Batik di wilayah Blitar, terdapat sesuatu yang menarik yang patut kita cermati dan kita pelajari.

Batik Tutur merupakan sebuah identitas. Identitas yang dikenakan pada kain dengan model jenis motif tutur atau bercerita. Yang bisa digunakan sebagai baju dan juga hiasan atau fungsi lain yang bisa menggunakan bahan meterian batik. batik Tutur dicipta sejak era tahun 1900 kala itu diciptakan dan digagas sebagai bentuk sindiran kepada kaum bangsawan bentukan kolonial. Bisa dibayangkan tingkat kreatifitas pembatik di Blitar pada jaman itu bukan hanya pada masalah pada desain namun sebuah identitas perlawan.

Batik Afkomstig Uit Blitar (1902), yang berarti batik kerajinan tangan rakyat dengan motif binatang dan tumbuhan sebagai simbol. “Simbol-simbol yang menggambarkan sindiran bagi para penguasa dan bangsawan bentukan penjajah Belanda” pada masa itu dan fungsi batik ini pada masanya adalah sebagai hiasan dinding ( Rengga Kusuma Nawala Sari, Dharsono )

Batik tutur resmi dipublikasikan oleh Dinas Kabupaten Blitar pada 5 Pebruari 2012 dengan tujuan motif batik Afkomstig Uit Blitar bisa kembali ke tengah masyarakat Blitar sehingga masyarakat Blitar tahu dan memahami bahwa sebenarnya Blitar memiliki batik kuno yang sudah lama hilang. Karya batik yang dihasilkan dari proses inovasi ini adalah Batik Tutur Gambir Sepuh yang kemudian berkembang lagi hingga menjadi 15 jenis motif batik, yaitu Awu Nanas, Celeret Dubang, Cindhe Gadhing, Gambir Sepuh, Galih Dhempo, Gobog, Jalu Watu, Mirong Kampuh Jingga, Mupus Pupus, Pedhut Kelut, Podhang, Prumpun, Simo Samaran, Tanjung Manila, Winih Semi.

Penggalian batik asli Blitar ini memang tidak mudah. Keberadaan batik ini awalnya diketahui lewat foto hitam-putih yang ada pada arsip-arsip kuno zaman Kolonial Belanda, di mana di situ tertulis keterangan : “Batik Afkomstig Uit Blitar, 1902” yang dalam bahasa Belanda artinya “Batik yang berasal dari Blitar, 1902”. Berbekal dari informasi yang minim itulah penggalian atas batik asli Blitar, yang keberadaannya tidak diketahui itulah, dimulai. Dewan Kesenian Kabupaten Blitar meyakini bahwa batik itu masih tersimpan dengan baik di salah satu museum di Belanda, dan penggalian itu dimulai dari korespondensi melalui surat-elektronik. Setelah melalui jalan yang berliku, pada akhirnya batik asli Blitar tersebut bisa dijumpai di sebuah museum di Leiden-Belanda, dan meskipun batik tersebut tidak bisa dibawa pulang karena sudah menjadi milik museum, tapi sebuah foto yang diambil langsung dari batik tersebut dan beberapa informasi terkait dirasa sudah cukup untuk memulai pengembangan batik asli Blitar tersebut. Di Blitar-lah, Edy Dewa mulai mengembangkan batik tersebut dengan dipadukan dengan berbagai macam tutur yang terdapat pada kitab-kitab sastra Jawa kuno, maka Batik Tutur muncul kembali, dengan berbagai variasinya. Kemunculan batik Afkomstig Uit Blitar atau batik kerajinan tangan rakyat dengan motif binatang dan tumbuhan sebagai simbol. Simbol-simbol yang menggambarkan sindiran bagi para peguasa dan ndoro bentukan penjajah Belanda pada saat itu.Namun ’batik kerajinan tangan rakyat di Blitar’ yang berkembang pada saat itu masih sebatas seperti cerita dan digunakan sebagai hiasan dinding saja.Dibawah ini adalah wujud dari batik Afkomstif Uit Blitar. Gambar 1; Motif batik Afkomstig Uit Blitar Koleksi Dewan Kesenian Kab.Blitar (Foto: Rahmanto Adi, Juli 2016) Gambar atau motif yang terdapat pada batik Afkomstig Uit Blitar antara lain stilasi tumbuhan dan binatang seperti singa, burung, ayam, kuda terbang, serta kupu-kupu. Motif tumbuh-tumbuhan atau sulur terdapat pada bagian badan, sedangkan pada bagian kepala terdapat sulur tanaman dan bentuk seperti burung. Pada batik tradisional biasanya terdapat tumpal pada bagian kepala, tetapi batik Blitar ini tidak memiliki tumpal dan digantikan dengan sulur-sulur bunga seruni yang mekar. Pada bagian papan di sisi luar kepala terdapat motif garis-garis bunga yang mekar. Berdasarkan bentuk dan motif batik Afkomstig Uit Blitar tersebut kemungkinan pembuatnya dipengaruhi oleh gaya batik Belanda. Hingga saat ini belum diketahui secara pasti makna penggambaran binatang-binatang tersebut. Seniman Blitar berpendapat bahwa gambar tersebut melambangkan sindiran ter- 16 texture, art & culture journal hadap bangsawan bentukan Belanda. Makna gambar pada batik Blitar tersebut menunjukkan bahwa kuda terbang disimbolkan dengan golongan bangsawan pribumi sedangkan burung disimbolkan golongan terpelajar kaum pribumi dan singa merupakan simbol pemerintahan Belanda. Penggambaran kuda dan burung terlihat lebih dominan dibandingkan singa kemungkinan untuk menunjukkan bahwa kekuatan Belanda di tanah air semakin berkurang atau mengecil kalah oleh suara golongan bangsawan ataupun kaum terpelajar. Hal tersebut didasarkan pada munculnya politik etis yang diutarakan oleh Ratu Belanda pada 17 September 1901 yang berisikan program politik balas jasa untuk kesejahteraan kaum pribumi melalui program irigasi, emigrasi, dan edukasi. Jika melihat pada tahun perkiraan pembuatan batik tersebut yaitu 1902 maka besar kemungkinan sangat berhubungan dengan kebijakan politik tersebut yang seolah-olah memperlihatkan kaum pribumi memiliki kedudukan yang lebih besar dan kekuasaan pemerintah Belanda semakin melemah. Motif batik Afkomstig Uit Blitar menjadi patokan dalam penciptaan 15 batik tutur yang saat ini telah dipatenkan oleh Dewan Kesenian Kabupaten Blitar sebagai batik khas Kab.Blitar. Batik tutur dapat dibilang batik yang memiliki motif dengan makna yang dapat mengedukasi masyarakat untuk dapat berperilaku, menjaga serta mengamalkan ajaran ataupun budaya jawa. Hal itu terwujud dari motif batik dengan sasmita yang tergambar dalam batik tersebut, yang selanjutnya ditafsir menjadi tuturnya yang berasal dari benak penciptanya yang mencerminkan budaya masyarakat, dalam mendapatkan sasmita dan tuturnya seniman telah menggali dari kamus jawa kuno, kemampuan pencipta dalam pengetahuan tentang budaya jawa serta ajaran-ajaran dari sesepuh lalu ditafsir lagi menjadi makna yang dapat diajarkan kepada generasi penerus.