Menengok Kembali Tjondo Berowo: Jendela Budaya Jawa di Era Kolonial

Di tengah hiruk pikuk Kota Blitar pada masa kolonial Belanda, sebuah majalah bernama Tjondo Berowo hadir bagaikan oase pengetahuan dan budaya. Terbit sebulan sekali dalam bahasa Jawa dan ditulis dengan huruf Jawa, Tjondo Berowo menjadi jendela bagi masyarakat untuk mengenal dunia luar dan memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan.

Menelusuri Jejak Tjondo Berowo

Pertama kali terbit pada tahun 1925 di bawah pimpinan redaktur J. Ing Tjiang, Tjondo Berowo membawa nuansa baru dalam dunia pers di Gemeente Blitar. Dipimpin oleh Soponjono, majalah ini menghadirkan ragam konten yang menarik, mulai dari karya sastra, pengetahuan umum, dan budaya Jawa, hingga iklan, pengumuman, dan berita.

Menyibakkan Jendela Budaya Jawa

Meskipun berita terbilang minim, Tjondo Berowo tetap menarik minat para pembacanya. Karya sastra yang dimuat dalam majalah ini menghadirkan keindahan bahasa dan budaya Jawa, sedangkan pengetahuan umum dan budaya Jawa memberikan wawasan baru bagi para pembacanya.

Menyentuh Berbagai Kalangan

Iklan-iklan yang dimuat dalam majalah ini menunjukkan bahwa pangsa pasar Tjondo Berowo cukup luas, menjangkau berbagai daerah di Indonesia, seperti Kalimantan, Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali. Bahkan, beberapa iklan berasal dari produk luar negeri di Malaysia.

Jejak yang Terputus

Sayangnya, jejak Tjondo Berowo terhenti di tahun 1926. Koleksi majalah ini di Perpustakaan Nasional (Jakarta) hanya sampai pada penerbitan tahun tersebut, baik dalam bentuk asli maupun mikrofilm. Nasib penerbitan setelah tahun 1926 masih menjadi misteri, tidak diketahui apakah majalah ini masih terbit atau tidak.

Warisan yang Tak Ternilai

Meskipun demikian, Tjondo Berowo meninggalkan warisan berharga dalam sejarah pers di Indonesia. Keberadaannya menjadi bukti bahwa pada masa kolonial, semangat literasi dan budaya Jawa tetap hidup dan berkembang.

Tjondo Berowo adalah pengingat bahwa pengetahuan dan budaya dapat menjadi jembatan penghubung antar masyarakat. Majalah ini mengajak pembacanya untuk menjelajahi dunia baru, membuka cakrawala pengetahuan, dan memperkuat identitas budaya Jawa.

Meskipun Tjondo Berowo telah tiada, kisahnya akan terus hidup dalam lembaran sejarah. Majalah ini menjadi simbol kegigihan dan semangat para pendirinya dalam menyebarkan pengetahuan dan budaya di tengah gejolak masa kolonial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *